Revitalisasi Limbah Kulit Pisang Mulu Bebe Khas Maluku Utara sebagai Produk Kesehatan Ekonomis dalam Pemberdayaan PKK Jati

Ekonomi57 Dilihat

TERNATE – Selama ini kulit pisang mulu bebe, camilan khas Maluku Utara, hanya berakhir di tempat sampah. Tapi di tangan tim dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Khairun Ternate, limbah yang tak dilirik itu justru disulap menjadi dua produk kesehatan bernilai ekonomi sekaligus: hand sanitizer herbal ber-merek MubeHand dan teh herbal ber-merek MubeTea.

Transformasi ini lahir dari Program Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Revitalisasi Limbah Kulit Pisang Mulu Bebe Khas Maluku Utara sebagai Produk Kesehatan Ekonomis dalam Pemberdayaan Ibu-Ibu PKK Jati Maluku Utara”, yang digelar pada tanggal 7 Juli 2026 dengan dukungan pendanaan DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun 2026. Program ini merupakan wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, memadukan riset ilmiah dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat akar rumput.

Selama sebulan penuh, sebanyak 30 ibu-ibu PKK Kelurahan Jati mengikuti pelatihan intensif, mulai dari cara hidup bersih dan sehat (PHBS), dasar-dasar UMKM, hingga proses lengkap mengolah limbah kulit pisang menjadi produk bernilai jual. Program ini digagas dan dipimpin oleh apt. Hesti Trisnanti Burhan, S.Farm., M.Farm., bersama tim dosen apt. Nur Asma S. Somadayo, S.Farm., M.Farm., dan Nikita Astria, S.Ak., M.M., serta melibatkan mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unkhair.

Limbah yang Ternyata Menyimpan “Senjata” Antibakteri

Yang membuat program ini menarik, kulit pisang mulu bebe bukan sekadar sampah biasa. Hasil kajian tim menunjukkan kulit pisang ini mengandung senyawa bioaktif seperti saponin dan flavonoid, yang terbukti memiliki sifat antibakteri dan mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, salah satu bakteri penyebab infeksi kulit yang umum ditemui. Dalam teh herbal sendiri saponin dan flavonoid berfungsi sebagai antioksidan serta bermanfaat dalam pencegahan penyakit degeneratif sehingga dijadikan produk teh herbal.

Potensi itulah yang kemudian diolah menjadi dua produk nyata sekaligus. Peserta dibekali keterampilan teknis secara menyeluruh: mulai dari ekstraksi bahan aktif, formulasi cairan hand sanitizer, hingga pengemasan dan pelabelan produk dalam botol spray 100 ml untuk MubeHand. Selain itu, kulit pisang mulu bebe juga diolah menjadi MubeTea, teh herbal berbahan dasar kulit pisang yang kaya antioksidan dan dikemas dalam bentuk celup praktis, cocok dinikmati sebagai minuman kesehatan sehari-hari. Tak berhenti di situ, para peserta juga dibekali ilmu manajemen usaha kecil dan strategi pemasaran digital lewat Instagram, TikTok, dan WhatsApp Business, agar kedua produk unggulan ini, MubeHand dan MubeTea, siap bersaing di pasar.

Lurah Kelurahan Jati, Arafik Gapang, mengapresiasi program yang mengubah persepsi warga terhadap limbah lokal.

“Melalui limbah lokal kulit pisang unggulan Maluku Utara, yaitu pisang mulu bebe yang selama ini hanya dibuang begitu saja, kita bisa melihat bahwa ini bisa menjadi peluang ekonomi baru yang menarik, terutama bagi ibu PKK dan lingkungan,” kata Arafik

Antusiasme serupa datang dari Ketua PKK Kelurahan Jati, Ria Maryanti Arafik. Dengan nada bangga, ia mengaku baru menyadari nilai ekonomi dari sesuatu yang selama ini dianggap tak berguna.

“Baru tahu kalau ternyata kulit pisang bisa dimanfaatkan menjadi produk yang punya nilai ekonomis, selama ini kan cuma dibuang-buang,”

Lebih dari Sekadar Pelatihan

Bagi ibu-ibu PKK Kelurahan Jati, pelatihan ini membuka lebih dari sekadar wawasan baru. Mereka pulang membawa bekal keterampilan praktis yang bisa langsung dikembangkan menjadi usaha mandiri, sekaligus peluang menambah penghasilan keluarga.

Program PKM ini membuktikan bahwa inovasi tidak selalu butuh bahan yang mewah. Dari sesuatu yang sesederhana limbah kulit pisang, bila dipadukan dengan pendekatan ilmiah dan pendampingan yang tepat, bisa lahir dua produk sekaligus, MubeHand dan MubeTea, yang membawa dampak sosial dan ekonomi nyata bagi masyarakat, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sekitar. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *