Buku Ikan Karang Pesisir Barat Laut Obi Diluncurkan, Ini Pesan Bupati Halsel

Halsel115 Dilihat

Halsel – Perusahaan tambang nikel di Maluku Utara biasanya identik dengan aktivitas pertambangan dan pengolahan mineral. Namun, Harita Nickel bersama Penerbit Buku Kompas meluncurkan Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi – Seri I Ikan Karang: Mosaik Kehidupan Laut yang Memikat di Jakarta, Selasa (8/9/2026). Lantas, apa kaitannya tambang dengan buku tentang ikan karang dan ekosistem pesisir?

Buku ini mendokumentasikan ikan karang hasil pemantauan tim Marine Environment Harita Nickel di pesisir barat Pulau Obi. Ekosistem laut yang didokumentasikan tersebut juga berada di sekitar wilayah operasi dan menjadi ruang hidup masyarakat pesisir. Bagi masyarakat yang bergantung pada laut, kondisi ekosistem dan ketersediaan ikan berkaitan langsung dengan penghidupan mereka.

Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba, dalam kata sambutannya di buku tersebut, menilai kekayaan ekosistem laut Pulau Obi memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat, khususnya para nelayan.

“Sebagai wilayah bahari, Kabupaten Halsel dianugerahi kekayaan ekosistem laut yang menjadi penopang utama masyarakat, khususnya bagi para nelayan Pulau Obi. Perairan di Pulau Obi, terutama di bagian barat, menyimpan kekayaan dan keanekaragaman hayati. Terdapat gugusan terumbu karang alami yang menjadi rumah bagi ratusan spesies ikan dan biota laut lainnya,” ujar Bassam.

Harita Nickel menanam lebih dari 2,600 terumbu karang buatan untuk meningkatkan kesehatan laut di sekitar area operasional (Dok: Istimewa)

Menurut Bassam, pengelolaan ekosistem laut secara berkelanjutan merupakan bagian penting dari masa depan daerah. “Mengelola dan memelihara ekosistem laut di Pulau Obi secara berkelanjutan merupakan keharusan strategis untuk masa depan. Menjadikan laut tetap produktif merupakan tanggung jawab bersama karena laut menjadi sumber penghidupan,” jelas Bassam.

Pandangan tersebut dirasakan langsung oleh nelayan. Ketua Kelompok Nelayan Soligi, Ibrahim, mengatakan kondisi laut dan keberadaan ikan berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas melaut.

“Kalau lautnya bagus, ikan juga ada. Kami bisa melaut dan membawa hasil untuk keluarga. Jadi bagi kami, laut memang harus dijaga karena dari situlah kami mencari makan,” ujar Ibrahim.

Menurut Ibrahim, dokumentasi mengenai ikan karang juga dapat membantu masyarakat mengenali kekayaan laut di sekitar mereka. “Kalau sekarang ada buku yang menunjukkan ikan-ikan yang ada di sekitar Obi, menurut saya bagus. Jadi kita bisa lebih mengenal apa yang ada di laut kita sendiri,” katanya.

Pandangan lain datang dari Saidi Jouronga, warga Kawasi yang tinggal dan beraktivitas di sekitar area operasional perusahaan. Menurutnya, aktivitas melaut di Desa Kawasi bersifat musiman, sementara sebagian besar warga mengandalkan perkebunan dan kegiatan niaga sebagai sumber penghidupan. Karena itu, kondisi laut tetap menjadi perhatian ketika musim melaut tiba.

Nelayan Pulau Obi memanfaatkan hasil kekayaan laut (Dok:Istimewa)

Menurut Saidi, kondisi laut di sekitar desa turut dijaga melalui sejumlah upaya pengelolaan perusahaan, termasuk pengendalian air limpasan tambang melalui kolam sedimen dan pembangunan tanggul penahan ombak. “Bagi kami nelayan Kawasi, laut yang terjaga itu penting karena pada musim tertentu kami melaut dan mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar Saidi.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kekayaan laut di pesisir barat Pulau Obi tidak berhenti pada keanekaragaman spesies yang tercatat dalam buku. Ekosistem yang sama juga menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat dan sumber penghidupan nelayan.

Lanjut dalam sambutan di buku, Bassam menilai dokumentasi kekayaan biota laut dapat menjadi rujukan untuk memperkuat pemahaman masyarakat sekaligus mendukung upaya konservasi dan keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat pesisir.

“Buku yang mendokumentasikan kekayaan biota laut kita ini hadir sebagai rujukan penting guna memperkuat pemahaman masyarakat, mendukung upaya konservasi, serta memastikan keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat pesisir. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harus terus kita perkuat demi menjaga kelestarian laut sekaligus mendorong pembangunan daerah yang berkelanjutan,” kata Bassam.

Pada akhirnya, buku tersebut mencatat lebih dari sekadar jenis-jenis ikan karang di pesisir barat Pulau Obi. Dokumentasi itu juga memperlihatkan keterkaitan antara ekosistem laut dengan kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya. Di wilayah yang sama, aktivitas ekonomi dan pembangunan berjalan berdampingan dengan kebutuhan untuk menjaga laut tetap produktif bagi masyarakat pesisir. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *