DPRD Harap Pariwisata Ternate Masuk Tiga Besar Sumbang PAD

Kota Ternate260 Dilihat

TERNATE – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Ternate mena ruh harapan besar terhadap pengembangan sektor pariwisata agar kedepan masuk tiga besar dalam penyumbang pendapatan dalam peningkatan PAD Kota Ternate.

Wakil Ketua II DPRD Kota Ternate, Jamian Kolengsusu, peluang itu sangat terbuka. Pasalnya, Ternate dikelilingi oleh potensi obyek wisata yang menjanjikan dalam mendongkrak peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Ternate.

“Saya berharap Kota Ternate harus bisa menjadi hal yang sama. Karena Ternate kaya akan obyek wisata laut, wisata alam, wisata budaya, dan wisata macam-macam terma suk Geopark yang harus didorong kedepan dalam rangka menunjang PAD Kota Ternate,” harapnya.

Harapan tersebut disampaikan usai kunjungan kerja (kunker) Komisi II DPRD Kota Ternate ke Halmahera Barat pekan lalu. Kunjungan tersebut melihat Peran Pemerintah Daerah (Pemda) dalam rangka peningkatan PAD.

“Saat ini bila dilihat dari bidang pariwisata, Halmahera Barat (Halbar) bisa dikatakan unggul satu tingkat diatas Kota Ternate. Karena ada satu event yang dikelola sudah go international, yaitu Festival Teluk Jailolo,” ungkapnya.

Festival Teluk Jailolo, menurut dia, sampai saat ini masih dianggap festival yang bagus untuk Provinsi Maluku Utara. Ada beberapa hal yang diterima disana dan kemudian memberikan suatu perbandingan Jailolo dengan Ternate.

“Daerah yang punya karakteristik wi layah sama dan banyak hal yang sama. Jika dilihat dari kelebihan- kelebihan mungkin Kota Ternate se langkah lebih maju dari Jailolo.Tapi bila dilihat dari perkembangan pari wisata, Ternate jauh dibawah bebe rapa kabupaten kota lain,” ujarnya.

Jamian memberi contoh, pendapatan pariwisata Kota Ternate dan Jailolo agak berbeda sangat jauh. Sampai saat ini di Jailolo target pendapatan sektor pariwisata Rp 1 miliar lebih bahkan mereka bisa melampaui target tersebut.

“Kami butuh dalami kira-kira Halbar itu dari sisi pariwisata. Ini menjadi suatu pembelajaran penting. Kota Ternate sebenarnya pintu masuk Maluku Utara dari semua sisi. Kota Ternate dari sisi pariwisata cukup lengkap,” katanya.

Ia menyebut, Ternate kaya potensi obyek wisata laut, pantai, wisata danau, obyek wisata ilmiah, potensi obyek wisata sejarah dan budaya. Ini paling penting, kemudian yang paling penting lagi pintu masu k ke Maluku Utara ada di Ternate.

“Untuk itu dari sisi pengembangan pariwisata saya berharap masih banyak ruang yang harus kita kem bangkan dalam rangka mendong krak pendapatan asli daerah (PAD) kita dari sektor pariwisata,” ucapnya.

Jamian bilang, target PAD sektor pariwisata cuma Rp 400 juta. Kalau tidak salah pencapaiannya belum sampai 50 persen. Ini sangat miris kalau dibanding dengan Halbar yang memang sebagai anak bong so dari kabupaten kota yang ada.

Menurutnya, kalau dilihat dari usia Kota Ternate dan kaya akan potensi obyek wisata itu seharusnya Kota Ternate menjadi contoh. Fakta di bidang pariwisata, di Maluku Utara bahkan Morotai yang menjadi prioritas Kementerian Pariwisata.

“Morotai dari sisi pengembangan pariwisata dianggap oleh Kementrian sudah maju dari Kota Ternate, kemudian Halbar dan daerah lain lagi. Kita (kota Ternate) kalau tidak salah masuk dalam urutan kelima atau keenam dari perangkingan pariwisata,” cetusnya.

Jamian berharap pemerintahan Tauhid-Nasri dengan Kepala OPD yang hampir semua muda-muda, ini penting sekali, harus bersinergi dan koordinasi dalam rangka menggenjot PAD Kota Ternate.

“Kalau kita kaji secara detail hampir seluruh daerah, sektor pariwisata masuk tiga besar dalam penyumbang pendapatan dalam peningkatan PAD. Bahkan ada di beberapa dae rah seperti Bali dan Jogya, pariwisata rangking pertama dalam meningkatkan PAD,” tuturnya.

Jamian berharap,Ternate harus bisa menjadi hal yang sama. Kare na Ternate kaya akan wisata laut, wisata alam, wisata budaya/sejara h termasuk Geopark yang harus didorong kedepan dalam rangka menunjang PAD Kota Ternate.

“Pemerintahan andalan jilid II ini, pariwisata jangan dilihat sebelah mata, dinas yang tidak produktif tapi harus dilihat sebagai potensi untuk peningkatan PAD kita kedepan. Sektor pariwisata dan budaya suda h dikenal di daerah-daerah,” ujarnya.

Bahkan di Kementerian Pariwisata, kata Jamian, sampai makanan saro-saro mereka hitung hingga detail kharismanya. Tapi kota Ternate itu masih anggap itu sebagai hal yang biasa, padahal ini potensi yang harus kita kembangkan.

Suatu saat nanti kapal pesiar yang masuk ke Ternate membawa turis (wisatawan), Dinas Pariwisata jem put bola menjual obyek wisata dan budaya yang ada harus dijual. Ternate dengan brending kota rempah harus betul dipromosikan yang tak butuh anggaran yang besar lagi.

“Kapal pesiar masuk Ternate, bila perlu kita buat event- event di suatu tempat yang menarik wisatawan itu sehingga mereka kembali ke nega ra masing-masing, semua produk kita hampir bisa dipromosikan lewa t sarana itu,” pungkasnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *