Pajak Menguat Retribusi Lemah, Thamrin: Hemat Biaya Listrik Cukup Besar

Kota Ternate12 Dilihat

TERNATE – Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Ternate rapat dengar pendapat (RDP) dengan Kepala Bappelitbangda Kota Ternate, Kepala BP2RD, Kepala BPKAD, Dinas Perhubungan (Dishub) serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ternate.

Kepala Bappelitbangda Kota Ternate, Thamrin Marsaoly menyampaikan bahwa, rapat tersebut membahas estimasi penda patan, karena DPRD melaksanakan fungsi kontrol. “Jangan sampai di akhir tahun to- rang punya pendapatan tak sesuai dengan realisasi,” katanya, Rabu (3/6/2026).

Thamrin mengatakan, pihak pemerintah memberikan beberapa masukan penting dan DPRD juga memberikan masukan-masukan penting kepada pemerintah. “Salah satunya adalah bagaimana supaya estimasi dalam satu tahun PAD kita yang Rp 159 miliar itu bisa didorong untuk naik,” ujarnya.

Begitu pula, menurut dia, beberapa pos-pos tertentu yang bisa diyakinkan dan berpeluang. Salah satunya BPTHTB dan ada juga Perda baru mengatur sarang burung walet. “Itu merupakan salah satu poin penting yang kami bicarakan, Insya Allah ini diterima,” tuturnya.

Soal pajak ini, lanjut Thamrin, perlu dilakukan sosialisasi pada masyarakat. Pajak sudah sangat bagus, realisasi pajak per hari tadi ini sudah 54 persen dari target. Mudah- mudahan sampai akhir tahun bisa capai.

“Agak lemah kita di Retribusi yang baru capa i 27-30 persen. Ini perlu digenjot lagi, karena ada 4 pengelola retribusi. Retribusi pasar di Dinas Perindag, Dishub tiga item dan DLH digenjot Rp 40 miliar. Tak cukup tapi di akhir tahun bisa sampai Rp 30 miliar, mem bantu pembiayaan pemerintah kota,” ucapnya.

Posisi daerah, menurut Thamrin, tidak sehat semua karena dana transfer ke daerah (TKD) dipotong. “Kami di Banggar meng skema dua hal. Yang pertama itu efisiensi operasional kantor. Misal penerapan bekerja dari rumah bagian dari menjaga kestabilan,” sambungnya menjelaskan.

Bayangkan saja di 41 OPD, contoh kasus di Bappeda (Bappelitbangda) bayar listrik setiap bulan bisa Rp 13 sampai Rp 14 miliar. Thamrin menjelaskan, ketika ada efisiensi, ketika bekerja dari rumah, dalam satu hari kita bisa menghemat listrik dalam satu bulan tinggal Rp 9 juta. “Jika ini diberlakukan di semua OPD berarti kita hemat biaya listrik cukup besar,” terangnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *