TERNATE – Ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kelurahan Jati, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, punya cerita baru soal kulit pisang.
Bukan lagi soal camilan pisang mulu bebe yang digoreng renyah, melainkan tentang kulitnya, bagian yang selama puluhan tahun cuma numpuk jadi sampah dapur, kini justru diburu karena khasiatnya untuk kulit wajah dan tubuh.
Kisah ini bermula dari Program Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Pemberdayaan Ibu-Ibu PKK Kelurahan Jati dalam Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang Mulu Bebe Unggulan Maluku Utara sebagai Produk Kecantikan Bernilai Ekonomis”.
Kegiatan tersebut digagas oleh tim dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Khairun Ternate, program ini berjalan sejak 7 Juli 2026 berkat dukungan pendanaan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Khairun tahun 2026. Sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, kegiatan ini sekaligus menjadi laboratorium nyata bagi kampus untuk menguji dampak riset di tengah masyarakat.
Tercatat 30 ibu rumah tangga dari kelompok PKK Kelurahan Jati mengikuti pelatihan ini secara penuh selama sebulan. Materinya beragam, mulai dari cara merawat kulit dengan bahan alami, pengenalan dunia usaha kecil, sampai praktik langsung mengolah limbah kulit pisang menjadi produk yang layak dijual.
Kegiatan ini digawangi oleh apt. Hesti Trisnanti Burhan, S.Farm., M.Farm., sebagai penanggung jawab program, didampingi dosen lain yakni apt. Nur Asma S. Somadayo, S.Farm., M.Farm., Nikita Astria, S.Ak., M.M., dan Indah Lutfiyah Kasim, S.Psi., M.A., dengan turut melibatkan mahasiswa KKN Tematik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unkhair sebagai fasilitator lapangan.
Rahasia di Balik Kulit Pisang yang Selama Ini Terbuang
Tak banyak yang tahu, di balik teksturnya yang kerap dianggap tak berguna, kulit pisang mulu bebe menyimpan senyawa aktif seperti saponin, flavonoid, dan antioksidan dalam jumlah yang cukup tinggi. Ketiganya dikenal luas dalam dunia kosmetik alami: membantu proses regenerasi sel kulit, mengangkat kotoran dan sel kulit mati, serta meredakan kemerahan akibat iritasi ringan. Dari sinilah ide mengubah limbah dapur ini menjadi bahan baku kecantikan mulai dikembangkan secara serius oleh tim.
Rangkaian pelatihan pun dirancang agar peserta benar-benar menguasai proses produksinya, bukan sekadar tahu teorinya. Mulai dari cara mengeringkan dan menghaluskan kulit pisang, mengekstrak zat aktifnya, meracik formula, hingga mengemas produk jadi agar tampil menarik dan tahan lama. Dari proses ini lahir dua produk andalan: body scrub bubuk kulit pisang yang bekerja mengikis sel kulit mati dan melembutkan permukaan kulit, serta masker wajah bubuk kulit pisang yang diracik untuk membantu kulit wajah tampak lebih segar dan cerah. Selepas sesi produksi, peserta juga diajak memahami sisi bisnisnya, termasuk cara menjual lewat Instagram, TikTok, dan WhatsApp Business, supaya produk buatan mereka tidak berhenti di dapur, tapi benar-benar sampai ke tangan pembeli.
Mendapat dukungan Penuh dari Pemerintah Kelurahan sehingga kegiatan ini turut dihadiri langsung oleh Lurah Kelurahan Jati, Arafik Gapang, S.E., yang membuka acara dengan pesan optimistis bagi warganya.
“Saya melihat sendiri bagaimana sesuatu yang tadinya kita anggap sepele, seperti kulit pisang, bisa diolah jadi produk yang punya nilai jual. Ini bukti bahwa potensi ekonomi itu kadang ada di depan mata kita, tinggal bagaimana kita mau belajar mengolahnya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PKK Kelurahan Jati, Ny. Ria Maryanti Arafik, mengaku pelatihan ini membuka cara pandangnya terhadap limbah rumah tangga.
“Selama ini kulit pisang langsung kami buang tanpa pikir panjang. Setelah ikut pelatihan ini, saya baru sadar ternyata bisa jadi bahan perawatan kulit. Rasanya seperti menemukan peluang usaha yang selama ini ada di depan mata tapi tidak kami sadari,” katanya
Bekal Baru, Peluang Baru
Bagi peserta, pelatihan ini bukan sekadar menambah wawasan soal kecantikan alami, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian ekonomi. Keterampilan mengolah body scrub dan masker wajah ini bisa langsung dipraktikkan di rumah dan berpotensi menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga masing-masing peserta.
Program PKM ini menegaskan satu hal: inovasi tidak melulu soal teknologi canggih atau bahan mahal. Dari limbah dapur yang selama ini luput dari perhatian, lahir produk kecantikan yang punya nilai ekonomi sekaligus manfaat nyata bagi lingkungan. Sebuah bukti kecil bahwa pemberdayaan perempuan dan kepedulian terhadap lingkungan bisa tumbuh dari akar yang sama. (**)
