Kesultanan Ternate Usul Ganti Nama Jalan Hingga Intervensi Kearifan Lokal

Kota Ternate7 Dilihat

TERNATE – Panitia khusus (Pansus I) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DPRD Kota Ternate akhir pekan telah mengunjungi Kedaton Kesultanan Ternate yang diterima oleh yang mulia Sultan Ternate yang juga kapasitas sebagai anggota DPD-RI.

Perbincangan dengan pak Sultan sendiri kurang lebih 30-an menit. Kemudian beliau izin meneruskan agenda yang lainnya. Selanjutnya Pansus RTRW DPRD melakukan pembahasan bersama pejabat dan perangkat adat Kesultanan Ternate.

“Ada beberapa catatan yang juga menjadi usulan dari Kesultanan. Di antaranya bagai mana RTRW itu mampu menjamin keberlang sungan kawasan-kawasan cagar budaya,” ujar Ketua Pansus RTRW DPRD Kota Ternate, Junaidi A. Bahrudin, Senin (4/5/2926).

Politisi partai Demokrat ini menyebutkan bahwa, memang ada upaya perlindungan, upaya pelestarian dan upaya revitalisasi ter hadap situs maupun tempat cagar budaya nya. Seperti di area Keraton Kesultanan.

“Dulu kita punya Perda Bangunan Gedung yang juga membatasi bangunan-bangunan di sekitarnya agar tidak boleh lebih tinggi dari Kedaton Sultan. Disamping kesana juga ada Masjid Kesultanan. Itu butuh konsistensi selain regulasi yang diatur dalam tata ruang, saya kira pemerintah juga perlu konsisten untuk mengimplementasikan itu, sehingga betul-betul kita menjaga situs atau bangunan cagar budaya kita, ” katanya.

Yang menarik, Junaidi mengatakan, ada usulan perubahan nama jalan. Jalan di depan lapangan Salero depan Kedaton Kesultanana jalan lurus sampai di SMP Negeri 2 masih menggunakan Jalan Pemuda. Diusulkan diganti dengan nama Jalan Sultan Haji. Mudaffar Sjah.

“Ini usulan yang menarik, saya kira kami sudah komunikasikan pak Wali Kota dan beliau menyetujui. Tinggal secara administratif dilengkapi pengusulannya mungkin dari pihak Kesultanan, kemudian ada SK pergantian nama jalan,” tuturnya.

Junaidi bilang, memang ada usulan lain juga yang mengemuka untuk memberikan penghormatan kepada mantan wali kota dan wakil wali kota yang sudah meninggal seper ti Burhan Abdurahman, Syamsir Andili diaba dikan nama-nama mereka pada ruas jalan.

“Sejauh ini kami baru berkomunikasi untuk Jalan Pemuda diganti Jalan Haji Sultan Mudaffar Sjah. Hal lain adalah Kesultanan Ternate meminta ada intervensi kuat pemerintah untuk mengutamakan kearifan lokal pada kebijakan-kebijakan pembangun an daerah, termasuk penggunaan Bahasa Ternate,” ujarnya.

Junaidi bilang, ada permintaan revitalisasi kawasan Bululu Madehe Dodoku Capita Ali, jadi ada pusat pertokoan disitu agar ditata ulang, direvitalisasi Ksrena itu masuk kawas an cagar budaya dikembalikan fungsinya.

“Kemudian menetapkan kawasan inti budaya Ternate sebagai zona perlindungan yang ketat seperti Keranton, Masjid Sultan, Kampung Soasio, Dodoku Ali. Kemudian menetapkan Kampung Tua lainnya sebagai zona yang tidak boleh dibangun bangunan bertingkat, tidak boleh dialihfungsikan menjadi kawasan perdagangan,” tegasnya.

Begitu pula, menurut Junaidi, ada yang diusulkan kampung adat seperti Tubo bisa dijadikan sebagai Kampung Adat. “Tata ulang kawasan yang sudah terlanjur terganggu seperti Dodoku Ali, pertokoan yang menutup ruang budaya di Kampung Soasio,” tandasnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *