Dua Kali Telan Pil Pahit, Sartini Hanafi Terpilih Anggota DPRD

Politik852 Dilihat

TERNATE, Tbn- Pemilihan legislatif (Pileg) 2024 boleh mengubah nasib Sartini Hanafi punya latar belakang pebisnis, politisi PDI-P ini menjadi satu dari tujuh perempuan anggota DPRD Kota Ternate masa bakti 2024-2029. Perempuan yang dua kali menelan pil pahit di partai Golkar ini, pindah ke PDI-P kini jadi anggota DPRD Kota Ternate.

Sartini yang biasa disapa Tini lolos ke Kalumata Puncak, Ternate Selatan. Perempuan dapil Ternate Utara ini ingin memberi kontribusi ke masyarakat. Langkah Tini di dunia politik ternyata membuahkan prestasi dan kebanggaan tersendiri.

“Saya ini punya bisnis, kemudian diajak teman, keluarga sudah. Awalnya, iseng-iseng untuk isi waktu, lama-lama tertarik juga,” kata saat disambangi di rumahnya di kawasan Toloko, Ternate Utara, kemarin sore (29/3/2024).

Dirinya kemudian berceritera mulai terjun ke dunia politik dari Partai Golkar, kemudian pindah ke PDI-P hingga terpilih menjadi anggota DPRD Kota Ternate, memperjuang kan aspirasi masyarakat dalam bidang pendidikan, persoalan anak putus sekolah.

“Saya punya bisnis jasa wedding organizer, ada perkumpulan wedding jalannya itu juga ada kaum waria yang nantinya torang harus perjuangkan dorang punya nasib. Terutama sebagai orang Ternate pastinya kita akan perjuangkan hak -hak masyarakat adat,” ucapnya.

Dirinya dalam 4 sampai 5 bulan kedepan ini perjuangan apa yang menjadi kebutuhan yang dianggap paling urgen dan mendesak soal perempuan, yang itu berkaitan pernikahan anak usia dini. Begitu pula kekerasan yang sering terjadi dalam rumah tangga umumnya disebabkan faktor nikah muda.

Perempuan yang masuk kategori politisi tahan banting punya tujuan terjun ke dunia politik itu, menurut Tini bisa bersosialisasi dengan masyarakat dan torang punya keinginan sesuatu untuk berbuat ke masyarakat dalam hal memanusiakan manusia itu lebih besar.

“Jadi dari situ saya mulai serius di Pilgub 2014 diajak masuk tim Ahmad Hidayat Mus (AHM) maju Pilgub. Saya masuk di tim sebagai juru bayar (bendahara). Sudah masuk di Golkar tapi belum masuk di struktur partai Golkar,” katanya.

Setelah itu baru dirinya masuk dalam struktur DPD Golkar Kota Ternate dengan jabatan bendahara. Seiring berjalan waktu sampai AHM maju ikut Pilgub kedua kali di 2019, Tini masih tetap bertahan di struktur partai sebagai bendahara.

“Dari situ saya serius terjun jadi Caleg, Alhamdulillah saya perolehan suara tinggi di atas 1.400 suara. Saya tidak patah semangat, saya tetap menjalankan rutinitas seperti biasa, berbisnis sambil kerja-kerja politik,” ucapnya.

Kemudian H. Djadid Ali maju Caleg lagi kedua kali di 2019 dan Tini masih tetap aktif mendampingi beliau kemana-mana. Maju lagi dan perolehan suara masih sama di atas 1.000 suara. Tapi lagi-lagi Golkar tidak bisa raih dua kursi, karena tidak cukup. Kalau dihitung secara akumulasi secara keseluruhan pun tak bisa capai dua kursi.

Lagi-lagi dari situ harus telan pil pahit, kalah lagi, tapi bagi dirinya itu hal biasa. Tini berkaca pada AHM dengan segala yang luar biasa. Belum jadi pun beliau tidak pernah putus asah dalam dunia politik dan beliau pun menjadi panutan.

“AHM pernah bilang ke saya, apa pun torang lakukan di politik. Apa pun hasilnya, itulah tong pung hasil kerja. Jadi tong tar perlu patah semangat, tetap berkarya, Insya Allah, kalau tong pung kegigihan satu saat akan berhasil,” papar wanita lulusan sarjana hukum UMMU 2015 itu.

Keberanian terjun ke dunia politik pun berkat dukungan keluarga, terutama suami dan dua anaknya.

“Mereka juga tahu tapi lebih serius suami. Suami itu luar biasa, torang (kami) perempuan terjun ke politik tersebut waktu yang torang buang di politik itu tidak sedikit. Kalau tong punya waktu 10 hari itu di rumah hanya dua hari, sisanya 8 hari itu tong berpolitik. Apalagi kerja-kerja politik seperti Pilgub saya tidak pernah ada di rumah. Dukungan suami, anak-anak dan keluarga, itu luar biasa,” papar istri Hery Hayr itu.

Pergulatan politik Tini pun sangat moncer. Wanita kelahiran 10 Agustus 1973, besar di kecamatan Terna te Utara. Sementara di pantainya, menjabat sebagai bendahara baik saat masih di DPD Golkar Kota Ternate maupun sudah pindah DPC PDI-P. “Saya hanya berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya dan menjalankan amanah ketika saya dipercaya. Baik di partai maupun di masyarakat,” paparnya.

Tini bilang, ibu Merlisa minta kesediaan untuk membantu karena dirinya caleg DPRD Provinsi dapil Ternate-Halbar. “Waktu itu saya banyak pertimbangan sebagai kader partai, orang kuning dari partai lain minta. Memang banyak pertimbangan, saya putuskan membantu dengan dasar soal perempuan, bukan persoalan partai,” terangnya.

Dirinya sempat melapor ke Ketua DPD Golkar Kota Ternate dan minta izin ke AHM lewat WA. Saya sampai kan bahwa saya izin kali ini saya bantu ibu Merlisa. Tujuannya adalah soal perempuan karena Merlisa maju Caleg perempuan.

“Mau kalah atau menang itu persoalan nanti. Yang jelas, saat ini saya berjuang bersama perempuan meski beda partai. Dengan komitmen itu saya ada di pihak ibu Merlisa. Sekali pun itu belum terang terangan, karena yang tahu itu baru Ketua dan AHM, pengurus lain belum tahu meski ada laporan saya dengan merah. Padahal itu sebesar nya soal perempuan,” lanjut dia.

Hingga perjalanan sampai Pilwako Tini diminta hadir selaku perempu an di acara pembekalan di Dhuafa Center, dia melaporkan ke Ketua Golkar meski tak dibalas. Di perjalanan Tini putuskan terang-terangan bermain dengan ibu Merlisa.

Selesai pilwako, Tini masih tetap di Golkar tapi di luar struktur. Perjalan an itu ada empat sampai lima par tai yang komunikasi.”Ibu Tini sudah keluar dari Golkar, ada yang bilang dipecat dan ikut dengan torang,” kata Tini meniru ucapan mereka.

Tini balik menyampaikan bahwa, kalau dirinya belum terima surat pemecatan dari partai Golkar dan belum mengundurkan diri dari Golkar, masih pengurus partai Golkar tetapi tidak dalam struktur.

Menjelang Pileg, menurut Tini, dirinya dihubungi lagi oleh ketua DPD Golkar Kota Ternate, Fuad Alhadi dan sekretaris Syaiful, yang kala itu masih berada di persimpa ngan jalan, mau ke merah atau mau ke kuning, juga bimbang.

“Saya butuh banyak masukan dari tim-tim dan juga terakhir dari suami saya pertimbangkan dan sangat . dilematis. Saya pernah dipanggil pak Ikbal Ruray dan Hamid Usman bilang tetap di Golkar sudah, tidak usah keluar,” tuturnya.

Tini menyebut, kalau dirinya dipang gil Ketua DPD I Golkar, akan bilang kalau (alm) H. Djadid Ali pindah Caleg ke Provinsi. Ia tetap di Golkar ngoni mau taruh nomor urut tujuh juga tidak ada masalah. “Yang penting saya tidak berhadap- hadapan dengan pak haji Djalil Ali. Sudah dua kali, bukan saya takut tapi saya punya konstituen kecewa,”ucapnya.

Suara yang banyak dikasih ke dia terbuang percuma, Tini juga sumbang di atas 1.000 suara kepada pak haji. “Cukup berat saya mau tinggalkan Golkar karena torang ini bukan politisi kutu loncat, mau kesana kemari bukan,” kilahnya.

Tini tegaskan, tidak ada dalam pikiran sama sekali pindah partai, tak ada. “Tawaran saya kembali maju Caleg dengan partai Golkar itu, awalnya saya mau putuskan iya, tapi ibu Merlisa lagi-lagi komunikasi dengan saya karena dia mau maju di provinsi, saya maju di Kota Ternate dengan PDI-P,” terangnya.

Waktu dia di Jakarta, karyawan di galeri telepon kasih tahu, ibu ada surat dari Golkar. Surat apa, coba baca. Surat pemecatan kader partai Golkar, karena namanya sudah ada nama di merah (PDI-P), mungkin mereka cek di KPU, karena ibu Merlisa kasih masuk dalam DCS.

Itu berarti dirinya sudah fiks ke merah, karena sudah ada surat pemecatan. tidak ada klarifikasi, tidak ada ruang untuk klarifikasi karena tidak dibuka ruang. Kalau pada saat itu dibuka ruang mungkin bisa menjadi lain.

Tini memaparkan terpilih jadi anggota DPRD butuh petahana untuk sharing, dirinya terus berkomunikasi dan banyak belajar persoalan yang menjadi tugas pokok dan fungsinya di parlemen Kota Ternate.

Ibu dua anak ini menegaskan, tidak pernah menekan keluarga apalagi yang ASN. Saya tidak pernah panggil dan nanti bantu saya kerja disini dan disitu, itu tidak pernah. Keluarga itu saya kumpul dan sampaikan saya maju Caleg, kalau ngoni merasa keluarga memberi kan hak pilih kepada saya, Alhamdulillah, tapi kalau tidak jangan sampai menggangu ngoni pe karier juga, silahkan, ngoni pilih sesuai hati nurani, saya tidak paksa. Berbeda dengan saya punya anak dan suami. Takutnya saya ketika paksa dorang bermasalah di dong pe karier lagi,” terangnya.

Makanya jalan satu-satunya dia merangkul pemuda dengan mem beri perhatian dan mereka memberi kan masukan. “Pemuda Sangaji Utara luar biasa, saya maju Caleg tiga kali, yang kedua kali itu dorang kasih pilihan ke saya. Ibu pindah sudah,ibu kalau di partai lain sudah dapat alias terpilih,” lanjutnya.

Ibu coba di partai-partai kecil, tapi dirinya pernah bilang pada dorang (mereka), tidak mau ke partai ini dan partai itu. Ia pasti melihat.”Saya pilih partai harus ada untung ruginya par torang juga. Ketika tong maju su lolos baru di pusat tar lolos juga torang rugi,” sambungnya.

Yang pasti dirinya punya ujung tom- bak itu pemuda.Kalau bicara perempuan itu skala prioritas. Karena di pemberdayaan ada perempuan, tapi kalau ujung tombak ada di pemuda baru tong merangkul kalangan, bapak-bapak, ibu-ibu, dan majelis taklim. Dirinya bilang pemuda Sangaji Utara lumayan, mereka itu kompetitor karena ada juga orang asli, tapi balik lagi bagai mana perencanaan yang matang.

“Saya itu tidak mau pakai istilah tiba masa tiba akal. Mau jadi deng tarjadi, hubungan baik dan basis itu tetap terjaga. Alhamdulillah selama tiga kali itu saya tidak pernah turun dari 500 suara di kampung sekali pun di sini ada 2.000 suara, tapi target saya kema rin itu 1.000 suara tidak capai karena banyak Caleg dan orang punya keluarga juga banyak,” jelasnya.

Ibu dari Hesti dan Apriansa ini mendulang suara yang ditetapkan KPU Ternate kemarin Caleg nomor urut 1 dari PDI-P berhasil meraih 899 suara, posisi kedua setelah Gerin dra posisi pertama dengan angka tertinggi Zulfikri Andili peroleh 947 suara. (wis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *