Breakwater Pantai Jambula, BWS Usulkan 300 Meter 

Kota Ternate485 Dilihat

TERNATE – Warga kelurahan Jambu la, kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, me lakukan aksi blokir jalan utama selama 6 jam, menuntut pemerintah membangun breakwater atau pemecah ombak di pesisir pantai itu.

Pasalnya, sepanjang pantai Jambula merupakan kawasan pesisir yang langsung berhadapan dengan laut bebas, yang menjadi kannya salah satu wilayah yang paling rentan terhadap gelombang besar dan abrasi.

“Gelombang besar disertai angin kencang terjadi awal Oktober, sejumlah armada tangkap milik nelayan rusak dan mesin tempel sebanyak 2 unit ikut hancur diterjang ombak besar,” kata warga Adrian Ishak, Kamis (15/10/2025).

Kondisi itu jadi pemantik warga Jambula melakukan aksi memblokade jalan utama, Senin (13/10/ 2025) dan menuntut pemerintah provinsi bangun breakwater, meng ganti armada yang rusak, swering dan jalan yang rusak diperbaiki.

Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara berencana mengusulkan bangun breakwater atau sepanjang 300 meter ke Kementerian PUPR. Proyek ini akan diajukan melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) untuk dimasukkan dalam anggaran tahun 2026.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai dan Pantai BWS Maluku Utara, Irwan Mohamad, pihaknya telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi bersama Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, untuk memverifikasi kondisi di lapangan.

“Dari hasil pengecekan, penanganan breakwater yang dibutuhkan sekitar 300 meter. Itu akan dibagi dalam tiga modul, masing-masing sepanjang 100 meter,” ungkapnya.

Pantai Jambula merupakan kawasan pesisir yang langsung berhadapan dengan laut lepas, menjadikannya salah satu wilayah paling rentan terhadap gelombang besar dan abrasi. Warga setempat, mayoritas nelayan, mengaku sering mengalami kerusakan rumah dan perahu akibat hempasan ombak, terutama saat cuaca ekstrem.

BWS Malut menilai kondisi ini masuk kategori darurat dan perlu penanganan sesegera mungkin. Meski pagu anggaran Kementerian PUPR telah terkunci, Irwan memastikan pihaknya akan terus mendorong agar proyek ini tetap dipertimbangkan untuk masuk dalam daftar prioritas tahun depan. “Kami akan koordinasi intensif dengan Pembina Direktorat Sungai dan Pantai. Prinsipnya, kami tetap optimis usulan ini bisa direalisasikan,”ujar Irwan.

Estimasi sementara pembangunan tiga modul pemecah ombak terse but akan membutuhkan dana puluhan miliar rupiah. Untuk memperkuat usulan ke pusat, BWS Malut juga memerlukan sejumlah dokumen pendukung, termasuk surat dukungan dari BPBD dan rekomendasi res mi dari Pemerintah Kota Ternate.

“Pembangunan breakwater ini bukan hanya soal infrastruktur fisik, tapi juga bentuk perlindungan terhadap keselamatan warga dan nelayan Jambula dari ancaman gelombang tinggi,” pungkas Irwan.

Warga Jambula menyambut baik langkah cepat yang diambil pemerintah daerah dan BWS. Namun mereka berharap proyek ini tidak berhenti di level wacana atau perencanaan.

“Kami sudah terlalu sering dijanji kan, tapi tak pernah ada realisasi. Mudah-mudahan kali ini benar- benar dibangun, sehingga warga dan nelayan merasa aman dan nyaman,” tutur Hasyim, nelayan setempat. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *